Lelaki di sudut ruangan

Lelaki paruh baya itu masih duduk di tempat yang sama. Kursi panjang di sudut ruangan. Tepat di sebelah jendela. Kedua tangannya terbuka, menopang buku biru yang tidak terlalu tebal.  Wanita yang tidak dapat disentuh. Demikian kalimat pada sampul buku. Matanya terpaku pada jalan di depan jendela. Asap dari gelas cappucinonya sudah mulai hilang. Dingin tanpa sempat disesap.
Setitik air tersangkut di ujung mata pria paruh baya. Enggan turun sebab sudah mengering bendungannya. 
Delapan tahun berlalu dan lelaki itu masih melakukan hal yang sama. Mungkinkah dia masih menunggu?

Wanita cantik dengan rambut kuncir kuda. Rambut ikalnya berkerumun menjadi satu. Bergoyang indah mengikuti gerakan tuannya. Matanya membentuk bulan sabit setiap kali ia melengkungkan senyumnya. Wanita dengan dress putih berenda.

Delapan tahun berlalu dan dia masih terus menyesalinya.
Wanita yang mencintainya tanpa tapi. Wanita yang ia tinggalkan demi cinta yang lain. Lalu, seperti yang ia lakukan, wanita itu meninggalkannya untuk cinta yang lain.

Delapan tahun berlalu dan lelaki paruh masih menunggu. 
Delapan tahun berlalu dan ia telah kehilangan segalanya.
Delapan tahun berlalu dan semua hanya kenangan.

Postingan populer dari blog ini

Kajian Qadha dan Pentingnya Ilmu

Wanita Kuat