R u d i

Lelaki kurus itu mematung di depan pintu. Tubuhnya mengeras melihat pemandangan berjarak 10 meter di hadapannya. Sepuluh detik berlalu tanpa ada yang terjadi. Perlahan, dia menyeret kakinya mendekati kerumunan lalu duduk. Kemudian hening lagi. Dengan kening berkerut, lelaki kurus menyibakkan secarik kain putih yang menutupi wajah seseorang di tengah kerumunan. Hening. Diamati dalam-dalam wajah wanita di depannya. Satu menit berlalu dalam keheningan. 

Dengan bingung lelaki kurus memasukkan tangannya dalam saku dan menarik keluar beberapa lembar rupiah berwarna merah muda dan biru.

"Mak, Udi bawa uang buat emak. Gaji pertama Udi. Tadi pagi pas video call Udi liat meja udah kosong. Ni Mak, buat belanja." Lelaki kurus menyodorkan uang yang dipegang. Tidak ada tanggapan.

"Mak, ayo belanja. Udi bawa uang buat emak." Kali ini isak ini tangis puluhan mata tidak bisa lagi dibendung.

"Sudah Di, sudah. Ikhlaskan Emak. Emak sudah ga ada"

"Emak bangun, Mak. Mak bilang mau jajan pake uang Udi. Ini Udi bawain uang buat Emak. Ayo jajan, Mak. Mak banguuuuuun"

Rudi mulai menangis. Dia mengguncang tubuh ibunya, memeluk, memaksanya untuk bangun. Isak tangis memenuhi ruangan. Semua orang tahu betul bahwa mereka tidak boleh menangis, dan bahwa mereka harus bisa menenangkan Rudi. Tetapi mereka lebih tahu betapa pedih dan menyesalnya Rudi.

Postingan populer dari blog ini

Kajian Qadha dan Pentingnya Ilmu

Wanita Kuat